Vrydag 14 Junie 2013

Manusia dan Komunikasi Lintas Budaya di Era Global




Bab 8 

 Manusia dan Komunikasi Lintas Budaya di Era Global 

Manusia dan Komunikasi Lintas Budaya di Era Global 

Ciri khas manusia ialah bahwa ia merupakan “Animal Symbolicum”, makhluk yang mengerti serta membentuk simbol. Bagi binatang yang bertaraf lebih tinggi hanya akan mengenal ada tanda saja, tetapi bagi manusia mengenal simbol. Manusia tidak dapat diartikan sebagai subtansi, tetapi harus dimengerti melalui tingkah lakunya yang fungsional. Kita harus mempelajari manusia melalui ciptaan-ciptaannya sebagai makhluk simbolis, karena dengan memanfaatkan sistem simbol yang beraneka ragam, dapat melihat keanekaragamaan manusia dalam memamandang dunianya.
  • Manusia Makhluk Simbolik dan Makhluk Komunikasi.  
 Manusia saat diciptakan sudah diberi kemampuan untuk mengenal lambang dalam mengelola alam semesta ini. Sebagai makhluk lambang maka manusia juga merupakan makhluk simbolik untuk mengenali sesuatu dengan simbol-simbol. Sebagai contoh : masyarakat sudah sepakat jika mereka menemukan lampu merah menyala diperempatan jalan, maka yang berkendaraan akan berhenti, di Salatiga bendera hitam menandakan kedukaan, sementara bagi masyarakat Solo mereka menggunakan bendera kuning sebagai simbol duka.

  • Definisi Komunikasi  
  1.  Pengertian komunikasi secara etimologis : suatu usaha yang bertujuan menggapai kebersamaan atau  kesamaan makna.
  2. Pengertian komunikasi secara terminologis : proses penyampaian informasi oleh sesorang untuk oarang lain.
  3. Paradigma Lasswell bahwa komunikasi meliputi lima unsur :
     Komunikator : Seseorang yang menjadi sumber informasi.
     Komunikan : Orang yang berposisi sebagai penerima pesan.
     Pesan : isi atau informasi yang disamapaikan dalam proses komunikasi.
     Media atau Medium : alat bantu yang dipakai oleh komunikator.
     Feedback atau Umpan Balik : tanggapan respon dari komunikan tentang apa yang disampaikan   oleh komunikator.
Komunikasi adalah “Proses penyampaian pesan dari komunikator kepada kamunikan dengan menggunakan media tertentu sehingga menimbulkan efek tertentu”. Efek yang di maksud adalah bahwa proses komunikasi dapat mempengaruhi perilaku, cara hidup, dan nilai yang ada. Dari penjelasan di atas akan timbul masalah yang menonjol dalam proses komunikasi yaitu perbandingan antara pesan yang di sampaikan dengan pesan yang di terima. Informasi yang baik adalah tidak bergantung pada jumlahnya tapi sejauh mana pesan dapat dimengerti, dengan tujuan mewujudkan komunikasi yang efektif dan efisien.

  • Tujuan Komunikasi  
  1. Menginformasikan, pada tahap ini tujuan yang diharapkan hanya sebatas transfer pengetahuan saja. Contoh : saat mengikuti perkuliahan, seminar, menonton TV(berita/informasi media elektronik), dan sebagainya.
  2. Meyakinkan, pada tahap ini komunikasi tidak hanya sekedar transfer pengetahuan yang menjadi seseorang dari tidak tahu menjadi tahu tetapi sudah sampai pada menyakinkan komunikan.
    Contoh : pada saat kuliah mahasiswa yang kurang mengerti(materi yang didapatkan) sebaiknya aktif bertanya kepada dosen tersebut.
  3. Membujuk, setelah komunikan yakin tentang pesan yang diterima maka dia akan terbujuk untuk melakukan tindakan seperti apa yang diharapkan komunikator, komunikan merasa tergerak untuk melakukan, bahkan kalau keyakinan yang diterima sangat kuat seolah-olah menjadikan dirinya tidak tenang kalau tidak melakukan.
    Contoh : Seorang dosen yang meminta mahasiswa untuk lebih aktif dalam menulis karya ilmiah dengan meminta mahasiswa mengikuti lomba program kreatifitas mahasiswa, kemudian mahasiswa yang mengikuti lomba tersebut akan ditambah nilai plus.
  4. Menginspirasi, tujuan komunikasi pada tahap ini merupakan tujuan yang ideal kalau bisa dicapai, karena pesan yang disampaikan komunikator tidak hanya sebatas diterima sebagai pengetahuan dan pengalaman baru tetapi bisa menjadi sumber inspirasi bagi komunikan untuk melakukan sesuatu yang lebih. Contoh: seorang dosen yang memberikan informasi secara detail tentang kegiatan PKM kepada mahasiswa supaya mahasiswa mau berperan serta dalam suatu kegiatan tersebut.
  5. Menghibur, tidak boleh dilupakan bahwa setiap orang membutuhkan rasa aman, nyaman, tidak terancam.
    Contoh: menciptakan suasana yang menyenangkan saat berbicara dengan orang lain atau mengetahui.
  • Faktor-Faktor yang mempengaruhi Komunikasi Efektif 
  1. Komunikator : Percaya diri, sebagai komunikator kepercayaan diri menjadi penting karena pada saat proses komunikasi berlangsung komunikan menaruh perhatian kepadanya dan sangat berharap ada keuntungan yang didapat.
  2. Komunikan : Siapa, jenjang pendidikan, profesi, berapa jumlah orang, baerapa usia rata-rata, ini adalah pertanyaan-pertanyaan yang harus dimunculkan tatkala kita akan berbicara kepada komunikan.
  3. Pesan : Penguasaan pesan,keterikatan dengan pesan.
  4. Media : Ketepatan pemilihan media.
  5. Feedback : Positif, negatif.
  • Jenis Komunikasi
  1. Komunikasi tertulis adalah proses penyampaian pesan secara tidak langsung kepada komunikan. Kelebihan : memberikan catatan-catatan dan referensi yang resmi dan otentik, kita dapat mempersiapkan terlebih dahulu pesan yang akan disampaikan dengan cermat dan sistematis. Kelemahan : kita memperoleh umpan baliknya tidak secara langsung.
  2. Komunikasi tidak tertulis adalah proses penyampaian pesan secara langsung kepada komunikan.
    Kelebihan : memberi pertukaran pesan yang cepat dengan umpan balik secara cepat. Kelemahan : kita perlu menjaga keserasian antara ucapan yang kita lontarkan dengan ekspresi dan bahasa tubuh kita.
  • Komunikasi Lintas Budaya
Komunikasi dan kebudayaan merupakan dua konsep yang tidak dapat dipisahkan. Pusat perhatiannya terletak pada cara manusia berkomunikasi dengan melintasi komunitas manusia dengan menggunakan kode-kode pesan secara verbal maupun non-verbal. Komunikasi antar budaya merupakan komunikasi yang terjadi di antara orang-orang yang memiliki kebudayaan yang berbeda-beda, bisa berbeda secara ras, etnis, atau sosio-ekonomi, atau gabungan dari semua perbedaan ini.

Komunikasi adalah budaya dan budaya adalah komunikasi karena pada dasarnya budaya berkembang melalui proses komunikasi dan sebaliknya dalam berkomunikasi tersirat perilaku budaya seseorang. Manifestasi budaya tidak akan dapat ditransmisikan tanpa komunikasi. Oleh karena itu, Fiske (20110) menyatakan bahwa komunikasi menjadi sentral bagi keberlangsungan kehidupan budaya; tanpa komunikasi kebudayaan jenis apapun akan mati. komunikasi antarbudaya adalah proses penyampaian pesan secara lisan, tulisan ataupun simbol-simbol antar pribadi yang memiliki latar belakang budaya yang berbeda.

  1. Tujuan Mempelajari Komunikasi Lintas Budaya dilatarbelakangi dengan beberapa hal (Litvin, 1977)
  • Dunia semakin menyusut, memahami keanekaragaman semakin penting, karena dengan „‟menyusutnya‟‟ dunia pertemuan orang-orang berlainan budaya sangat dimungkinkan.
  • Semua budaya berfungsi penting bagi penganut budayanya, tidak ada budaya yang tidak bernilai bagi penganutnya.
  • Nilai-nilai setiap masyarakat “sebaik” nilai-nilai masyarakat lainnya, oleh karenanya memahami nilai budaya lain sangat penting dilakukan saat berkomunikasi.
  • Setiap individu atau masyarakat berhak menggunakan nilai-nilai yang menjadi muatan budayanya.
  • Perbedaan-perbedaan individu itu penting, namun ada asumsi-asumsi dan pola-pola budaya mendasar yang berbeda dan patut dihormati.
  • Pemahaman atas nilai budaya sendiri merupakan prasyarat untuk memahami nilai budaya lain.
  • Memperkecil kecurigaan dan rasa khawatir terhadap “ancaman” dari budaya lain.
  • Dapat menyenangkan dan menumbuhkan kepribadiaan yang matang. 
  • Terampil dan meningkatkan komunikasi monokultrural dan multikultural.
  •  Adanya perbedaan kebudayaan menuntut kebutuhan komunikasi yang saling memahami.
  •  Komunikasi yang efektif akan tercipta kalau ada pemahaman antar budaya.
    2. Model Komunikasi Lintas Budaya



  • Keterangan skema antara budaya A atau B dengan budaya C :
Seorang komunikator akan melakukan komunikasi dengan budaya lain hendaknya komunikator meninggalkan sejenak budayanya untuk berusaha menyesuaikan dengan budaya komunikan, dengan demikian pada saat kita melakukan proses komunikasi kita sudah ada dalam suatu budaya, satu pandangan, satu perspektif. Contoh : apabila ada orang Sumba yang dibesarkan dalam budaya Sumba, lalu pergi merantau ke Jawa (Salatiga) untuk kuliah, meskipun dia sudah cukup lama berbaur dengan budaya Jawa tetapi budaya Sumbanya tidak akan hilang.
  • Keterangan skema antara Budaya A dan budaya B :
Pada skema di atas terlihat perubahan antara budaya A dan budaya B lebih kecil dan jaraknya pun lebih dekat dibandingkan dengan jarak dan perubahan budaya A atau budaya B dan budaya C. Contoh : budaya orang Jawa (Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Jawa Barat) banyak kemiripan dan masing-masing hampir memiliki bentuk yang sangat sama jika digambarkan.

    3. Komunikasi Lintas Budaya diEra Globalisasi
Beberapa ciri dari era globalisasi informasi :
  • Masyarakat global ditandai dengan semakin tingginya peradaban yang ditopang oleh keberadaan ilmu pengetahuan dan teknologi.
  • Globalisasi informasi menembus batas-batas budaya.
  • Kemajuan teknologi komunikasi memberikan kemudahan dan kecepatan dalam berhubungan satu dengan yang lain, sehingga jarak tidak lagi menjadi kendala untuk dapat berkomunikasi.
Dengan semakin cepatnya arus informasi dan beragamnya media komunikasi mengantarkan kita kepada tranformasi. Dengan munculnya masyarakat informasi, muncul pula ekonomi informasi. John Naisbitt mengidentifikasi beberapa hal yang perlu diperhatikan tentang perubahan masyarakat industry kemasyarakat informasi, diantaranya :
  • Masyarakat informasi merupakan realitas ekonomi
  • Inovasi dibidang komnikasi dan teknologi computer akan menambah langkah perubahan dalam penyebaran informasi dan percepatan informasi.
  • Teknologi informasi yang baru pertama kali diterapkan dalam tugas industry yang secara perlahan melahirkan aktifitas dalam proses produksi yang baru.
  • Didalam masyarakat informasi, individu yang meinginkan kemampuan menulis dan membaca yang lebih bagus, bias mendapatkan system pendidikan yang lebih bagus dari system yang terdahulu.
  • Keberhasilan atau kegagalan teknologi komunikasi ditentukan oleh prinsip teknologi tinggi dan sentuhan yang tinggi pula.
  • Perubahan gaya hidup (lifestyle). Teknologi yang semakin canggih memberi kemudahan dan kebebasan kepada masyarakat untuk mengakses informasi apa saja yang ada.
  •  Semakin tajamnya kesejangan atau gap antara negaraindustri dengan Negara berkembang.

DAFTAR PUSTAKA

Wiloso Pamerdi Giri, dkk. (2012). Ilmu Sosial dan Budaya Dasar. Salatiga: FISKOM PRESS UKSW Salatiga.


Persamaan Diferensial Orde II

  1. PDB Orde II
  • Bentuk umum : y² + p(x)y¢ + g(x)y = r(x)
    p(x), g(x) disebut koefisien jika r(x) = 0, maka Persamaan Differensial diatas disebut homogen,sebaliknya disebut non homogen.
  • Persamaan Differensial Biasa linier orde dua homogen dengan koefisien konstan, memiliki bentuk umum  :  y²+ ay¢ + by = 0
    dimana a, b merupakan konstanta sebarang.
    2. Solusi Homogen

Diketahui:
                 y²+ ay¢ + by = 0
Misalkan y=erx
Persamaannya berubah menjadi r2 + ar + b = 0, sebuah persamaan kuadrat.
Jadi kemungkinan akarnya ada 3 yaitu:
  • Akar real berbeda (r1,r2; dimana r1¹r2) Memiliki solusi basis y1 = er1 x dan y2 = er2 x  dan mempunyai solusi umum :
               y = C1er1 x + C2er2 x

  • Akar real kembar (r1,r2; dimana r = r1=r2) Memiliki solusi basis y1= er x dan y2 =x er x dan mempunyai solusi umum :
             y = C1er x + C2 x er x


  • Akar kompleks kojugate (r1 = u + wi, r2 = u – wi) Memiliki solusi basis y1 = eux cos wx; dan        y2 = eux sin wx dan mempunyai solusi umum :
            y = eux ( C1cos wx + C2 sin wx )

Contoh soal


1. y² + 5y¢ + 6y = 0
    Persamaan karakteristiknya: ( r + 2 ) ( r + 3 ) = 0 r1 = -2 atau r2 = -3
    maka solusinya : y = C1e-2 x + C2e-3x.
2. y² + 6y¢ + 9y = 0
    Persamaan karakteristiknya: ( r + 3 ) ( r + 3 ) = 0 r1 = r2 = -3
    maka solusinya : y = C1e-3x + C2 x e-3x.




Sondag 24 Maart 2013

Fungsi Sarapan Untuk Meningkatkan Produktivitas

Fungsi Sarapan Untuk Meningkatkan Produktivitas




Dengan alasan tidak ada waktu, bangun kesiangan, tidak terbiasa, atau bahkan alasan diet untuk mengurangi berat badan, seringkali para karyawan yang harus berangkat dari rumah pagi pagi sekali mengabaikan makan pagi atau sarapan. Tinggal di kota besar yang bergerak dengan cepat, waktu adalah komoditi yang berharga dan harus dimanfaatkan sebaik-baiknya. Apalagi jika akan dihadapkan dengan kemacetan tiap paginya, sarapan makin terasa sebagai aktifitas yang tidak terlalu penting. 'toh rasa lapar bisa diatasi dengan cemilan nanti atau makan siang yang berat, mungkin begitu yang ada dipikiran Anda.
Sesungguhnya hampir semua orang sudah menggetahui pentingnya sarapan. Sudah banyak penelitian yang membuktikan bahwa sarapan sehat sebaiknya jangan dilewatkan. Ketika bangun pagi kadar gula darah berada pada point yang rendah karena system pencernaan tubuh 'berhenti' bekerja sepanjang malam. Sementara gula darah adalah basic fuel bagi otak dan pusat sistem syaraf. Sarapan sehat di pagi hari juga akan memberikan suntikan energi untuk memulai hari dan membantu mengembalikan level gula darah ke batas normal sehingga otak dapat berfungsi dengan lebih baik dalam bekerja.
Sarapan sehat juga membantu Anda untuk berkonsentrasi terhadap tantangan pekerjaan dan terhindar dari perasaan lelah dan mengantuk saat jam baru saja menunjukkan waktu 10 pagi. Bayangkan ketika pekerjaan mulai membanjiri kubikel, Anda malah merasa mengantuk dan tidak semangat bekerja hanya gara-gara melewatkan sarapan. Masih ada kaitannya dengan pekerjaan, sarapan sehat juga membantu meningkatkan problem-solving skills. Dengan begitu banyaknya manfaat sarapan, rasanya tidak ada lagi alasan untuk melewatkan sarapan sebelum Anda mulai bekerja.

Apa yang dimaksud dengan sarapan sehat? Sebaiknya menu sarapan terdiri dari kombinasi seimbang beberapa kelompok makanan seperti sumber karbohidrat, protein dan lemak. Sarapan dengan sepiring gorengan atau mie instan setiap hari tentu saja tidak termasuk dalam golongan sarapan sehat.

 1. Jika Anda tidak terbiasa untuk sarapan, berikut adalah cara mudah untuk mulai menyertakan kegiatan sarapan dalam keseharian Anda.
   2. Jika waktu jadi kendala Anda, sesungguhnya menyiapkan sarapan sehat tidak memakan waktu lebih dari 15 menit. Toh Anda tidak perlu memasak menu komplit karena banyak menu sarapan sehat yang bisa disiapkan dengan mudah dan cepat.
   3. Mulai dengan satu langkah. Jika selama ini Anda tidak terbiasa dengan makan berat di waktu pagi, sarapanlah dengan 1 lembar roti gandum panggang atau potongan buah. Setelah beberapa hari, tambahlah jenis makanan lain untuk sarapan Anda, seperti setangkup roti gandum dengan olesan selai kacang atau potongan buah dengan yoghurt.
   4. Pilihlah buah untuk sarapan. Buah segar seperti jeruk, pisang, apel, kiwi, melon,mangga mengandung banyak serat dan gula yang dikandungnya (glukosa) bisa diubah tubuh dengan cepat menjadi energi.
   5. Jika Anda suka sereal, pilihlah yang mengandung kadar serat tinggi dan gula rendah. Kebanyakan sereal yang ada dipasaran justru mengandung serat rendah dan gula tinggi. Cermatlah dalam memilih. Oatmeal adalah pilihan yang baik. Memang akan memakan waktu untuk memasaknya, namun sekarang sudah tersedia oatmeal instant yang membutuhkan tidak terlalu banyak waktu untuk menyiapkannya. Selain itu oatmeal memiliki khasiat yang sangat bermanfaat bagi tubuh. Selain memberikan rasa kenyang lebih lama, oatmeal juga membantu mengurangi kadar kolesterol dalam darah.
   6. Pilihlah roti whole grain atau whole wheat daripada roti putih. Roti jenis ini akan memberikan rasa kenyang lebih lama. Selain itu, serat dalam roti jenis ini membantu menjaga agar kadar kolesterol Anda tetap normal, bahkan menurunkan tekanan darah tinggi.
   7. Jangan lewatkan sumber protein yang bisa didapatkan dari sebutir telur rebus, olesan peanut butter atau tambahkan irisan keju di toast. Telur kaya akan kandungan lutein yang membantu mata Anda tetap sehat. Sementara kacang-kacangan adalah sumber protein yang baik. Bila kacang-kacangan dikombinasikan dengan susu, akan mengandung semua amino acid yang Anda butuhkan.

Sering kita mengabaikan sarapan atau makan pagi, kadang-kadang karena kesibukan atau mengejar waktu sehingga makan pagi pun terabaikan. 
Sebenarnya makan pagi banyak manfaatnya, mungkin bisa dibaca alasan pentingnya sarapan atau makan pagi itu di tulisan berikut ini, sebelumnya di sini juga pernah membahas manfaat sarapan atau makan pagi.
Sebelum mengetahui manfaat, atau akibat tidak makan pagi/sarapan, mungkin kita perlu mengetahui apa itu makan pagi atau sarapan? Makan pagi atau sarapan merupakan makanan yang dimakan ketika pagi hari sebelum kita beraktifitas, makanan itu terdiri dari makanan pokok serta lauk pauk atau bisa juga makanan kudapan. Jumlah dari makanan yang dimakan ketika sarapan/makan pagi adalah sekitar kurang lebih 1/3 dari makanan sehari.

Manfaat yang kita dapat ketika kita rutin makan pagi atau sarapan adalah;
- Membantu untuk mencukupi zat gizi.
- Dapat memelihara ketahanan tubuh, agar kita dapat beraktifitas atau belajar atau bekerja dengan baik.
- Membantu memusatkan pikiran untuk belajar dan memudahkan penyerapan pelajaran.
Sedangkan akibat jika kita tidak rutin makan pagi, adalah;
- Jika untuk anak sekolah akan malas dan tidak dapat berpikir dengan baik.
- Badan akan terasa lemah, hal itu disebabkan kekurangan zat gizi yang diperlukan untuk tenaga.
- Untuk orang dewasa, performance kerja akan menurun.
- Tidak dapat melakukan aktifitas atau kegiatan atau pekerjaan di pagi hari dengan baik.

Sumber:  http://www.jadigitu.com/2012/09/manfaat-dan-akibat-jika-tidak-sarapan-pagi.html



Dinsdag 19 Maart 2013

dampak penggunaan pestisida bagi manusia



Bab 1
Pendahuluan
Di Indonesia pestisida banyak digunakan baik dalam bidang pertanian maupun kesehatan. Di bidang pertanian pemakaian pestisida dimaksudkan untuk meningkatkan produksi pangan. Banyaknya frekuensi serta intensitas hama dan penyakit mendorong petani semakin tidak bisa menghindari pestisida. Di bidang kesehatan, penggunaan pestisida merupakan salah satu cara dalam pengendalian vektor penyakit. Pengguaan pestisida dalam pengendalian vektor penyakit sangat efektif diterapkan terutama jika populasi vektor penyakit sangat tinggi atau untuk menangani kasus yang sangat menghawatirkan penyebarannya (Munawir, 2005).
Pestisida adalah bahan yang digunakan untuk mengendalikan, menolak, memikat atau membasmi organisme pengganggu. Nama ini berasal dari pest (”hama”) yang diberi akhiran –cide (”pembasmi”). Adapun sasarannya bermacam-macam, seperti serangga, tikus, gulma, burung, mamalia, ikan, atau mikrobia yang dianggap mengganggu. Dalam bahasa sehari-hari pestisida disebut sebagai “racun” akan tetapi tidak selamanya beracun. Dari sasaran penggunaannya, pestisida dapat berupa : insektisida (serangga), fungisida (fungi/jamur), rodentisida (hewan pengerat/rodentina), herbisida (gulma), akarisida (tungau), dan bakterisida (bakteri).  
Insektisida adalah bahan-bahan kimia bersifat racun yang dipakai untuk membunuh serangga. Insektisida dapat memengaruhi pertumbuhan, perkembangan, tingkah laku, perkembangbiakan, kesehatan, sistem hormon, sistem pencernaan, serta aktivitas biologis lainnya hingga berujung pada kematian serangga pengganggu tanaman. Insektisida termasuk salah satu jenis pestisida.
Dewasa ini sudah banyak Insektisida yang  berasal dari campuran bahan kimia dan  ekstrak tumbuh-tumbuhan diyakini berpotensi mencegah pertumbuhan jamur ataupun menolak kehadiran serangga perusak. Limbah tangkai daun tembakau yang melimpah di Palembang, Sumatera Selatan sebagai produk samping produksi rokok menimbulkan beberapa permasalahan.   Salah satu masalah yang ditimbulkan oleh limbah tersebut adalah bau yang menyengat dan dapat  menjadi sumber penyakit. Oleh karena itu, upaya  pemanfaatan limbah tangkai daun tembakau tersebut dilakukan dengan mengekstraksi nikotin. Kandungan nikotin yang terdapat pada batang tembakau dapat diekstraksi dan dimanfaatkan sebagai sumber insektisida. Nikotin dapat menjadi racun syaraf.
Hasil ekstraksi menunjukkan dalam 20 gram serbuk tangkai daun tembakau menghasilkan sebanyak 0,7840 gram serbuk nikotin. Hasil pengujian formulasi dosis yang efektif  pada pengendalian hama tanaman kehutanan menghasilkan dosis terbaik yaitu sebesar 5% berdasarkan bobot.
Dari sekian banyaknya manfaat insektisida ini, jika digunakan secara berlebihan dapat menimbulkan dampak-dampak negatif baik bagi lingkungan maupun bagi manusia. Pada makalah ini penulis akan memaparkan fakta-fakta pendukung bahwa penggunaan insektisida yang berlebihan akan menimbulkan dampak-dampak negatif.























Bab 2
Isi
Sejarah
Penggunaan pestisida kimia pertama kali diketahui sekitar 4.500 tahun yang lalu (2.500 SM) yaitu pemanfaatan asap sulfur untuk mengendalikan tungau di Sumeria. Sedangkan penggunaan bahan kimia beracun seperti arsenic, mercury dan serbuk timah diketahui mulai digunakan untuk memberantas serangga pada abad ke- 15. Kemudian pada abad ke-17 nikotin sulfate yang diekstrak dari tembakau mulai digunakan sebagai insektisida. Pada abad ke-19 diintroduksi dua jenis pestisida alami yaitu, pyretrum yang diekstrak dari chrysanthemum dan rotenon yang diekstrak dari akar tuba Derris eliptica (Sastroutomo, 1992).
Pada tahun 1874 Othmar Zeidler adalah orang yang pertama kali mensintesis DDT (Dichloro Diphenyl Trichloroethane), tetapi fungsinya sebagai insektisida baru ditemukan oleh ahli kimia Swiss, Paul Hermann Muller pada tahun 1939 yang dengan penemuannya ini dia dianugrahi hadiah nobel dalam bidang Physiology atau Medicine pada tahun 1948 (NobelPrize.org). Pada tahun 1940an mulai dilakukan produksi pestisida sintetik dalam jumlah besar dan diaplikasikan secara luas (Weir, 1998). Beberapa literatur menyebutkan bahwa tahun 1940an dan 1950an sebagai aloera pestisida (Murphy, 2005).
Penggunaan pestisida terus meningkat lebih dari 50 kali lipat semenjak tahun 1950, dan sekarang sekitar 2,5 juta ton pestisida ini digunakan setiap tahunnya. Dari seluruh pestisida yang diproduksi di seluruh dunia saat ini, 75% digunakan di negara-negara berkembang (Sudarmo, 1987). Di Indonesia, pestisida yang paling banyak digunakan sejak tahun 1950an sampai akhir tahun 1960-an adalah pestisida dari golongan hidrokarbon berklor Universitas Sumatera Utara seperti DDT, endrin, aldrin, dieldrin, heptaklor dan gamma BHC.
Dampak Negatif
Pestisida merupakan racun yang mempunyai nilai ekonomis terutama bagi petani. Pestisida memiliki kemampuan membasmi organisme selektif (target organisme), tetatpi pada praktiknya pemakian pestisida dapat menimbulkan bahaya pada organisme non target. Dampak negatif terhadap organisme non target meliputi dampak terhadap lingkungan berupa pencemaran dan menimbulkan keracunan bahkan dapat menimbulkan kematian bagi manusia (Tarumingkeng, 2008).
Pernyataan serupa diungkapkan oleh Quijano at all (2001), penggunaan pestisida memang memberikan keuntungan secara ekonomis, namun juga
memberikan kerugian diantaranya residu yang tertinggal tidak hanya pada tanaman, tapi juga air, tanah dan udara, Penggunaan terus-menerus akan mengakibatkan efek resistensi berbagai jenis hama.  Hal tersebut di atas dapat terjadi terutama jika pestisida digunakan secara tidak tepat baik pada cara, dosis maupun organisme sasarannya. Oleh karena itu diperlukan pengetahuan yang lebih mendalam tentang pestisida.
Penggunaan pestisida telah menimbulkan dampak yang negatif, baik itu bagi kesehatan manusia maupun bagi kelestarian lingkungan. Oleh karena itu, penggunaannya harus dilakukan sesuai dengan aturan. Beberapa dampak negatif yang dapat timbul akibat penggunaan pestisida, di antaranya: a. Terjadinya pengumpulan pestisida (akumulasi) dalam tubuh manusia karena beberapa jenis pestisida sukar terurai. Pestisida yang terserap tanaman akan terdistribusi ke dalam akar, batang, daun, dan buah. Jika tanaman ini dimakan hewan atau manusia maka pestisidanya akan terakumulasi dalam  tubuh sehingga dapat memunculkan berbagai resiko bagi kesehatan hewan maupun manusia. b. Munculnya hama spesies baru yang lebih tahan terhadap takaran pestisida. Oleh karena itu, diperlukan dosis pemakaian pestisida yang lebih tinggi atau pestisida lain yang lebih kuat daya basminya. Jika sudah demikian maka risiko pencemaran akibat pemakaian pestisida akan semakin besar baik terhadap hewan maupun lingkungan, termasuk juga manusia sebagai pelakunya. Ternyata, penggunaan pestisida selain memberikan keuntungan juga dapat memberikan kerugian. Oleh karena itu, penyimpanan dan penggunaan pestisida apapun jenisnya harus dilakukan secara hati-hati dan sesuai petunjuk.
Efek Nikotin
Tembakau adalah salah satu tanaman yang digunakan sebagai Pestisida Organik karena senyawa yang dikandung adalah nikotin. Ternyata nikotin ini tidak hanya racun untuk manusia, tetapi juga dapat dimanfaatkan untuk racun serangga Daun tembakau kering mengandung 2 – 8 % nikotin. Nikotin merupakan racun syaraf yang bereaksi cepat. Nikotin berperan sebagai racun kontak bagi serangga seperti: ulat perusak daun, aphids, triphs, dan pengendali jamur (fungisida).
Pestisida yang berasal dari ekstrak tumbuh-tumbuhan merupakan pestisida alami. Namun penulis meyakini bahwa tidak semua tumbuhan dapat dijadikan bahan eksrak untuk membuat pestisida. Nikotin adalah salah satu tumbuhan yang sangat berbahaya.
Nikotin adalah senyawa bioaktif kimia utama dari tanaman tembakau (Nicotiana tabacum, N. glauca dan N. rustica) serta beberapa tumbuhan dari familia Lycopodiaceae, Crassulaceae, Leguminosae, Chenopodiaceae dan Compositae. Nikotin sejak lama digunakan sebagai insektisida. Rata-rata kandungan nikotin pada N. tabacum dan N. rustica adalah 2% hingga 6% berat kering. Dahulu nikotin diproduksi dalam bentuk ekstrak dari daun tembakau, tetapi kini dibuat dan dijual dalam bentuk nikotin teknis atau nikotin sulfat.
Nikotin adalah racun non-sistemik, terutama aktif dalam fase uapnya, tetapi juga memiliki efek sebagai racun kontak dan racun perut. Bekerja pada syaraf serangga dengan memblok reseptor (penerima) kholinergik asetilkholin. Merupakan insektisida yang sangat toksik, berspektrum sangat luas, digunakan untuk mengendalikan berbagai jenis serangga hama, termasuk aphids, thrips dan kutu kebul; pada berbagai tanaman.
LD50 oral pada tikus antara 50-60 mg/kg, LD50 dermal (kelinci) 50 mg/kg. Mudah diabsorbsi oleh kulit, beracun bagi manusia bila berkontak dengan kulit. Merupakan racun inhalasi yang sangat toksik. Klasifikasi toksisitas WHO (bahan aktif) kelas Ib, dan EPA (formulasi) kelas I.
Apabila penggunaan pestisida jenis ini tanpa diimbangi dengan perlindungan dan perawatan kesehatan, orang yang sering berhubungan dengan pestisida, secara lambat laun akan mempengaruhi kesehatannya. Pestisida meracuni manusia tidak hanya pada saat pestisida itu digunakan, tetapi juga saat mempersiapkan, atau sesudah melakukan penyemprotan.
Kecelakaan akibat pestisida pada manusia sering terjadi, terutama dialami oleh orang yang langsung melaksanakan penyemprotan. Mereka dapat mengalami pusing-pusing ketika sedang menyemprot maupun sesudahnya, atau  muntah-muntah, mulas, mata berair, kulit terasa gatal-gatal dan menj
adi luka,  kejang-kejang,  pingsan, dan tidak sedikit kasus berakhir dengan kematian. Kejadian tersebut umumnya disebabkan kurangnya perhatian atas keselamatan kerja dan kurangnya kesadaran bahwa pestisida adalah racun.
Kadang-kadang  para petani atau pekerja perkebunan, kurang menyadari daya racun pestisida yang merupakan ekstrak dari nikotin, sehingga dalam melakukan penyimpanan dan penggunaannya tidak memperhatikan segi-segi keselamatan. Pestisida sering ditempatkan sembarangan, dan saat menyemprot sering tidak menggunakan pelindung,  misalnya tanpa kaos tangan dari plastik, tanpa baju lengan panjang, tidak mengenakan masker penutup mulut dan hidung. Juga cara penyemprotannya sering tidak memperhatikan arah angin, sehingga cairan semprot mengenai tubuhnya. Bahkan kadang-kadang wadah tempat pestisida digunakan sebagai tempat minum, atau dibuang di sembarang tempat. Kecerobohan yang lain, penggunaan dosis aplikasi sering tidak sesuai anjuran. Dosis dan konsentrasi yang dipakai kadang-kadang ditingkatkan hingga melampaui batas yang disarankan,dengan alasan dosis yang rendah tidak mampu lagi mengendalikan hama dan penyakit tanaman.
Secara tidak sengaja, pestisida dapat meracuni manusia atau hewan ternak melalui mulut, kulit, dan pernafasan. Sering tanpa disadari bahan kimia beracun tersebut masuk ke dalam tubuh seseorang tanpa menimbulkan rasa sakit yang mendadak dan mengakibatkan keracunan kronis. Seseorang yang menderita keracunan kronis, ketahuan setelah selang waktu yang lama, setelah berbulan atau bertahun. Keracunan kronis akibat pestisida saat ini paling ditakuti, karena efek racun dapat bersifat karsiogenic (pembentukan jaringan kanker pada tubuh), mutagenic (kerusakan genetik untuk generasi yang akan datang), dan teratogenic (kelahiran anak cacad dari ibu yang keracunan).
Berdasarkan sifatnya maka Komisi Pestisida telah mengidentifikasi berbagai kemungkinan yang timbul akibat penggunaan pestisida. Dampak yang mungkin timbul adalah :
Pengaruh Terhadap Lingkungan
Pestisida dapat berpengaruh terhadap lingkungan, pengaruh itu dapat berupa
1.      Keracunan terhadap ternak dan hewan piaraan.
Keracunan pada ternak maupun hewan piaraan dapat secara langsung maupun tidak langsung. Secara tidak langsung pestisida yang digunakan untuk melawan serangga atau hama termakan atau terminum oleh ternak, seperti rumput yang telah terkontaminasi pestisida dimakan oleh ternak atau air yang sudah tercemar pestisida diminum oleh ternak.
1.      Keracunan terhadap biota air (ikan).
Pencucian pestisida oleh air hujan akan menyebabkan terbawanya pestisida ke aliran tanah bagian bawah atau permukaan air sungai. Hal ini akan menyebabkan terjadinya keracunan terhadap biota air.
2.      Keracunan terhadap satwa liar.
Penggunaan pestisida yang tidak bijaksana dapat menimbulkan keracunan yang berakibat kematian pada satwa liar seperti burung, lebah, serangga penyubur dan satwa liar lainnya. Keracunan tersebut dapat terjadi secara langsung karena kontak dengan  pestisida maupun tidak langsung karena melalui rantai makanan (Bio Konsentrasi).
3.      Keracunan terhadap tanaman.
Beberapa insektisida dan fungisida yang langsung digunakan pada tanaman dapat mengakibatkan kerusakan pada tanaman yang diperlakukan. Hal ini disebabkan bahan formulasi tertentu, dosis yang berlebihan atau mungkin pada saat penyemprotan suhu atau cuaca terlalu panas terutama di siang hari.
4.      Kematian musuh alami organisme pengganggu.
Penggunaan pestisida terutama yang berspektrum luas dapat menyebabkan kematian parasit atau predator (pemangsa) jasad pengganggu. Kematian musuh alami tersebut dapat terjadi karena kontak langsung dengan pestisida atau secara tidak langsung karena memakan hama yang mengandung pestisida.
5.      Kenaikan populasi organisme pengganggu.
Sebagai akibat kematian musuh alami maka organisme pengganggu dapat lebih leluasa untuk berkembang.
Pengaruh Pestisida Terhadap Kesehatan Manusia
Pestisida masuk ke dalam tubuh manusia dengan cara sedikit demi sedikit dan mengakibatkan keracunan kronis. Bisa pula berakibat racun akut bila jumlah pestisida yang masuk ke tubuh manusia dalam jumlah yang cukup (Wudianto R, 2011).
1.     Keracunan Kronis
Pemaparan kadar rendah dalam jangka panjang atau pemaparan dalam waktu yang singkat dengan akibat kronis. Keracunan kronis dapat ditemukan dalam bentuk kelainan syaraf dan perilaku (bersifat neuro toksik) atau mutagenitas. Selain itu ada beberapa dampak kronis keracunan pestisida, antara lain:
a.       Pada syaraf
Gangguan otak dan syaraf yang paling sering terjadi akibat terpapar pestisida selama bertahun-tahun adalah masalah pada ingatan, sulit berkonsentrasi, perubahan kepribadian, kelumpuhan, bahkan kehilangan kesadaran dan koma.
b.      Pada Hati (Liver)
Hati adalah organ tubuh yang berfungsi untuk menetralkan bahan-bahan kimia beracun, maka hati itu sendiri sering kali dirusak oleh pestisida apabila terpapar selama bertahun-tahun. Hal ini dapat menyebabkan Hepatitis
c.       . Pada Perut
Muntah-muntah, sakit perut dan diare adalah gejala umum dari keracunan pestisida. Banyak orang-orang yang dalam pekerjaannya berhubungan langsung dengan pestisida selama bertahun-tahun, mengalami masalah sulit makan. Orang yang menelan pestisida ( baik sengaja atau tidak) efeknya sangat buruk pada perut dan tubuh secara umum. Pestisida merusak langsung melalui dinding-dinding perut.
d.      Pada Sistem Kekebalan
Beberapa jenis pestisida telah diketahui dapat mengganggu sistem kekebalan tubuh manusia dengan cara yang lebih berbahaya. Beberapa jenis pestisida dapat
melemahkan kemampuan tubuh untuk menahan dan melawan infeksi. Ini berarti tubuh menjadi lebih mudah terkena infeksi, atau jika telah  terjadi infeksi penyakit ini menjadi lebih serius dan makin sulit untuk disembuhkan.
e.       Pada Sistem Hormon.
Hormon adalah bahan kimia yang diproduksi oleh organ-organ seperti otak, tiroid, paratiroid, ginjal, adrenalin, testis dan ovarium untuk mengontrol fungsi-fungsi tubuh yang penting. Beberapa pestisida mempengaruhi hormon reproduksi yang dapat menyebabkan penurunan produksi sperma pada pria atau pertumbuhan telur yang tidak normal pada wanita. Beberapa pestisida dapat menyebabkan pelebaran tiroid yang akhirnya dapat berlanjut menjadi kanker tiroid.
2.     Keracunan Akut.
Keracunan akut terjadi apabila efek keracunan pestisida langsung pada saat dilakukan aplikasi atau seketika setelah aplikasi pestisida.
1.Efek akut lokal.
Bila efeknya hanya mempengaruhi bagian tubuh yang terkena kontak langsung dengan pestisida biasanya bersifat iritasi mata, hidung, tenggorokan dan kulit.
2..Efek akut sistemik.
Terjadi apabila pestisida masuk kedalam tubuh manusia dan mengganggu sistem tubuh. Darah akan membawa pestisida keseluruh bagian tubuh menyebabkan bergeraknya syaraf-syaraf otot secara tidak sadar dengan gerakan halus maupun kasar dan pengeluaran air mata serta pengeluaran air ludah secara berlebihan, pernafasan menjadi lemah/cepat (tidak normal).
Cara pestisida masuk kedalam tubuh :
1. Kulit, apabila pestisida kontak dengan kulit.
2. Pernafasan, bila terhisap
3. Mulut, bila terminum/tertelan.
Karena terdapat berbagai jenis pestisida dan ada berbagai cara masuk pestisida kedalam tubuh maka keracunan pestisida dapat terjadi dengan berbagai cara. Keadaan-keadaan yang perlu segera mendapatkan perhatian pada kemungkinan keracunan pestisida adalah (Djojosumarto, 2008) Pestisida dalam bentuk gas merupakan pestisida yang paling berbahaya bagi pernafasan, sedangkan yang berbentuk cairan sangat berbahaya bagi kulit, karena dapat masuk ke dalam jaringan tubuh melalui ruang pori kulit. Menurut World Health Organization (WHO), paling tidak 20.000 orang per tahun, mati akibat keracunan pestisida.
Diperkirakan 5.000 – 10.000 orang per tahun mengalami dampak yang sangat fatal, seperti mengalami penyakit kanker, cacat tubuh, kemandulan dan penyakit liver. Tragedi Bhopal di India pada bulan Desember 1984 merupakan peringatan keras untuk produksi pestisida sintesis. Saat itu, bahan kimia metil isosianat telah bocor dari pabrik Union Carbide yang memproduksi pestisida sintesis (Sevin). Tragedi itu menewaskan lebih dari 2.000 orang dan mengakibatkan lebih dari 50.000 orang dirawat akibat keracunan. Kejadian ini merupakan musibah terburuk dalam sejarah produksi pestisida sintesis.
 Selain keracunan langsung, dampak negatif pestisida bisa mempengaruhi kesehatan orang awam yang bukan petani, atau orang yang sama sekali tidak berhubungan dengan pestisida. Kemungkinan ini bisa terjadi akibat sisa racun (residu) pestisida yang ada didalam tanaman atau bagian tanaman yang dikonsumsi manusia sebagai bahan makanan. Konsumen yang mengkonsumsi produk tersebut, tanpa sadar telah kemasukan racun pestisida melalui hidangan makanan yang dikonsumsi setiap hari. Apabila jenis pestisida mempunyai residu terlalu tinggi pada tanaman, maka akan membahayakan manusia atau ternak yang mengkonsumsi tanaman tersebut. Makin tinggi residu, makin berbahaya bagi konsumen.
Dewasa ini, residu pestisida di dalam makanan dan lingkungan semakin menakutkan manusia. Masalah residu ini, terutama terdapat pada tanaman sayur-sayuran seperti kubis, tomat, petsai, bawang, cabai, anggur dan lain-lainnya. Sebab jenis-jenis tersebut umumnya disemprot secara rutin dengan frekuensi penyemprotan yang tinggi, bisa sepuluh sampai lima belas kali dalam semusim. Hal ini disebabkan karena insektisida alami cepat terurai sehingga melakukan penyemprotan secara berulang-ulang. Bahkan beberapa hari menjelang panenpun, masih dilakukan aplikasi pestisida. Publikasi ilmiah pernah melaporkan dalam jaringan tubuh bayi yang dilahirkan seorang Ibu yang secara rutin mengkonsumsi sayuran yang disemprot pestisida, terdapat kelainan genetik yang berpotensi menyebabkan bayi tersebut cacat tubuh sekaligus cacat mental.
Usaha Pemerintah
Pada tahun 1996, pemerintah Indonesia melalui Surat Keputusan Bersama Menteri Kesehatan dan Menteri Pertanian sebenarnya telah membuat keputusan tentang penetapan ambang batas maksimum residu pestisida pada hasil pertanian. Namun pada kenyatannya, belum banyak pengusaha pertanian atau petani yang perduli. Dan baru menyadari setelah ekspor produk pertanian kita ditolak oleh negara importir, akibat residu pestisida yang tinggi. Diramalkan, jika masih mengandalkan pestisida sintesis sebagai alat pengendali hama, pemberlakuan ekolabelling dan ISO, 1400 dalam era perdagangan bebas, membuat produk pertanian indonesia tidak mampu bersaing dan tersisa serta terpuruk.

.

Bab 3
PENUTUP
Kesimpulan
Pestisida memiliki banyak manfaat, salah satunya adalah  mengendalikan hama pengganggu tanaman,  tapi  jika digunakan secara berlebihan dapat menimbulkan dampak-dampak negatif baik bagi lingkungan maupun bagi kesehatan manusia bahkan berakibat fatal.
Saran
Penulis memberikan saran pada peneliti lain dan pembaca agar menggunakan pestisida sesuai aturan. Mencakup dosis pemakaian, cara penyimpanan, penyemprotan, dan cara mencuci dengan benar tanaman atau buah-buahan yang sudah terkontaminasi pestisida. Sebaiknya pemanfaatan nikotin sebagai pestisida alami kadarnya dikurangi mengingat banyak dampak negatif terhadap petani, serangga yang membantu penyerbukan, musuh alami organisme pengganggu maupun konsumen yang mengkonsumsi produk tersebut.























DAFTAR PUSTAKA

Nikada, 2012. RACUN PADA PESTISIDA. Departemen Pertanian Kabupaten Bireuen. Diakses tanggal 30 Juni 2012, dari http://fkthl-tbpp-bireuen.blogspot.com/2012/04/kita-kok-selalu-makan-racun.html.

Adnan Agnesa, 2011. PENGERTIAN DAN PENGGOLONGAN PESTISIDA. Universitas Jendral Soedirman – Fakultas Kedokteran Purwokerto. Diakses tanggal 30 Juni 2012, dari  http://kesmas-unsoed.blogspot.com/2011/05/makalah-pengertian-dan-penggolongan.html.

Panut Djojosumarto, 2011. ISEKTISIDA DAN AKARISIDA ALAMI. Gerbang Pertanian Indonesia. Diakses tanggal 30 Juni 2012, dari http://www.gerbangpertanian.com/2011/10/insektisida-dan-akarisida-alami-i-panut.html.

Fauzan Amin, dkk, 2008. EKSTRAKSI NIKOTIN DARI LIMBAH TANGKAI DAUN TEMBAKAU DAN PEMANFAATAN SEBAGAI INSEKTISIDA TANAMAN KEHUTANAN. Institut Pertanian Bogor. Diakses tanggal 1 Juni 2012, dari http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/36465.

Hadi Sucipto, 2010. PESTISIDA ORGANIK. Diunduh tanggl 30 Juni 2012, dari http://www.gerbangpertanian.com/2011/10/pestisidaorganik.html.